Sinode
GKPB
NEWS
Sinode GKPB
Gereja Kristen Protestan di Bali
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 4422726 / 4425117 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
DISKUSI : ANIMO MASYARAKAT BALI TERHADAP PENDATANG DARI SUMBA

Sumba, 19 Januari 2026 - Bishop Si Bagus Herman Suryadi, M.Th bersama Ketua dan Sekretaris Yayasan Maha Bhoga Marga, yakni Pdt. Dr. Ni Made Endang Betha Meidyawati, S.T, M.Div dan Verasea Manurung, SKM, MM, yang menginisiasi pertemuan tersebut bersama dengan Balipartnership (Pdt. Dr. Dedy Ndun dan Pdt. Samuel Suruk) mengadakan audiensi dengan Pemda Sumba Barat Daya Pk.08.30 Wita (diterima oleh Ibu Bupati SBD bersama dinas terkait), Pemda Sumba Barat Pk. 11.30 Wita (diterima oleh Bapak Wakil Bupati Sumba Barat dan Dinas terkait), Pemda Sumba Tengah Pk. 14.00 Wita (diterima oleh Bapak Wakil Bupati Sumba Tengah dan Dinas terkait). Sedangkan audiensi dengan Pemda Sumba Timur, dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2026, Pk. 08.30 Wita di Ruang Pertemuan Bupati, dihadiri juga oleh Bapak Pipit Purwadi, S.Kom sebagai Koordinator Project YMBM di Sumba Timur dan diterima oleh Bapak Wakil Bupati Sumba Timur beserta dinas terkait, tokoh masyarakat dan tokoh agama di Sumba Timur. Materi diskusi yakni Animo masyarakat Bali terhadap pendatang dari Sumba.

Bishop Si Bagus Herman Suryadi, M.Th memberikan pengantar tentang masalah sosial di Bali terkait masyarakat Sumba yang bekerja di Bali masih membawa kebiasaan dengan budaya yang berbeda, juga memberikan beberapa masukan positif tentang kedatangan masyarakat Sumba di Bali. Secara garis besar hasil pertemuan memberikan buah pemikiran yg sama, masukan/pemikiran yg diusulkan sebagai berikut:

1. Dalam waktu dekat akan diadakan percakapan 4 Kabupaten di Sumba dan Propinsi NTT untuk duduk bersama mencari solusi terbaik dengan persaudaraan dalam waktu dekat akan datang ke Bali untuk berjumpa dengan Pemda Bali dan Pemda Kabupaten Karangasem untuk mengadakan dialog.

2. Memperhatikan masyarakat Sumba yang akan mencari kerja di Bali, diharapkan dapat diketahui oleh Kepala Desa setempat, diharapkan juga masyarakat Sumba yang hendak merantau untuk dapat melengkapi diri dengan identitas diri seperti; KTP, BPJS Kesehatan, BPJS Ketanagakerjaan (untuk yg bekerja), kartu mahasiswa (untuk yang sekolah)

3. Mengikuti pelatihan keterampilan bekerja sebelum berangkat ke Bali, serta pengenalan budaya daerah yang dituju.

4. Membuat rumah aman/bersama untuk masyarakat Sumba di Bali, 4 kabupaten jika dimungkinkan untuk iuran untuk membuat hal tersebut. Dirumah aman juga bisa membuat pentas Seni Sumba di Bali untuk merubah paradigma masyarakat saat ini di Bali. Untuk layanan KTP juga bisa dilakukan di rumah bersama tersebut, masyarakat Sumba yang datang ke Bali juga Wajib mendaftar dirumah aman tersebut.

5. Menindak tegas untuk oknum yang melanggar ketertiban dan keamanan, agar tidak berdampak luas terhadap yang lainnya

Serta masih banyak masukan-masukan yang baik untuk dapat mengembalikan stigma negatif tentang Sumba. Disamping itu masih banyak potensi yang belum di optimalkan, menurut Bapak Wakil Bupati Sumba Timur, 4 Kabupaten memiliki persoalan klasik yang sama: keuangan yang terbatas. Prioritas datang berubah dengan cepat, sehingga tidak dapat fokus membantu / menyelesaikan prioritas Kabupaten.

BPMS GKS yang hadir juga sepakat untuk menyuarakan pastoralnya, mengimbau jemaat untuk mempersiapkan diri jika mau keluar kota, suara yang dapat disampaikan juga lewat warta jemaat. Mempersiapkan jemaat yang akan merantau di bidang iman dan mentalitas dan juga penyederhanaan adat. YMBM sebagai lembaga diakonia GKPB, sangat peduli terhadap kelompok rentan karena itulah

YMBM hadir di Sumba Timur guna memberikan edukasi terkait peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat rentan di Sumba Timur dalam merespon dampak perubahan iklim. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa daya dorong yang kuat masyarakat Sumba datang merantau ke Bali, karena belum dapat beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, dimana penghidupan dan akses kesehatan menjadi hal yang sangat sulit di Sumba. Berkaitan dengan hal tersebut, sangat disadari bahwa memerlukan dukungan banyak pihak untuk berkolaborasi dan berperan, seperti; Pemda, Gereja, Yayasan, masyarakat dan lembaga lainnya yang memiliki kepeduliaan untuk peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Sumba, sehingga dapat menurunkan masalah sosial, mall nutrisi dan masalah penghidupan di Sumba Timur.

​Puji Tuhan, pada tanggal 29 Januari, WAGUB NTT beserta Bupati Sumba Barat Daya dan Sumba Timur didampingi Pengurus Flobamora melakukan respon cepat untuk mengadakan kunjungan di Pemda Karangasem, serta juga berkunjung masyarakat Sumba yang ada bedeng-bedeng dan pada tanggal 30 Januari 2026 Bapak Bupati Sumba timur bersama dengan Ibu Bupati Sumba Barat Daya mengadakan diskusi dengan Pemda Prov. Bali dengan seluruh jajaran dan juga tokoh-tokoh masyarakat, Majelis Desa Adat Provinsi Bali dan tokoh-tokoh agama yang ada di Bali. Melalui dialog diharapkan tercipta hubungan yang semakin harmonis antara masyarakat NTT dan masyarakat Bali, serta terbangunnya mekanisme penyelesaian masalah yang lebih efektif dan bermartabat bagi seluruh pihak (EBM)

Senin, 02 Feb 2026 | Oleh: admin sinode