Melaju ke 2026: Undhira Kampus Rendah Hati, Unggul Mutu, dan Tangguh Bencana di Bawah Naungan LLDIKTI Wilayah 8 Bali-NTB
LLDIKTI Wilayah 8 merupakan unit layanan pendidikan tinggi yang membina perguruan tinggi di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat, berlandaskan filosofi lokal “Depang anake ngadanin” yang menekankan kerendahan hati dan orientasi pada pelayanan mutu. Ekosistem yang dikelola mencakup 104 perguruan tinggi dengan 616 program studi, sekitar 629.893 mahasiswa, dan 6.918 dosen tetap, menjadikan wilayah BALI–NTB sebagai salah satu pusat pertumbuhan pendidikan tinggi penting di kawasan timur Indonesia. Dalam konteks ini, LLDIKTI Wilayah 8 berperan strategis memfasilitasi penjaminan mutu, penguatan kelembagaan, pengembangan SDM dosen, serta pendampingan akreditasi dan pelaporan PDDikti, agar perguruan tinggi di Bali dan NTB semakin berdaya saing sekaligus selaras dengan kebutuhan pembangunan daerah dan kearifan lokal.
Saat ini Universitas Dhyana Pura mengelola 5 Fakultas (Kedokteran, Kesehatan dan Sains, Bisnis dan Pariwisata, Pendidikan dan Humaniora, Teknologi dan Informatika) dengan 20 Program Studi dengan jumlah mahasiswa aktif sekitar 2.768 orang. Di Penghujung tahun 2025 ini Undhira meraih pengakuan penting dari LLDIKTI Wilayah VIII melalui dua penghargaan sekaligus pada tahun 2025. Pada bidang pembelajaran dan kemahasiswaan, Undhira dinobatkan sebagai Terbaik 1 untuk kategori “Perguruan Tinggi Akademik dengan Pelaporan SPMI Terbaik”, yang menunjukkan tata kelola penjaminan mutu internal kampus berjalan sangat baik, terdokumentasi, dan akuntabel. Selain itu, pada bidang tata usaha, Undhira meraih predikat Terbaik 2 sebagai “Kampus Siaga Bencana Provinsi Bali”, yang menandakan keseriusan universitas dalam membangun kesiapsiagaan dan mitigasi bencana bagi sivitas akademika serta lingkungannya. Prestasi ganda ini menegaskan posisi Universitas Dhyana Pura sebagai perguruan tinggi yang unggul sekaligus berdaya tanggap terhadap isu-isu keselamatan dan keberlanjutan.
Urgensi Pelaporan SPMI Terbaik: Penghargaan “Perguruan Tinggi Akademik dengan Pelaporan SPMI Terbaik” menunjukkan bahwa siklus penjaminan mutu internal (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, peningkatan) berjalan secara konsisten dan terdokumentasi baik. Bagi PTS, ini sangat urgen karena menjadi dasar keandalan data untuk akreditasi, pemenuhan standar nasional pendidikan tinggi, dan pengambilan keputusan strategis (pengembangan prodi, rekrutmen dosen, investasi sarana). Pelaporan SPMI yang kuat juga meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan—mahasiswa, orang tua, mitra industri, dan pemerintah bahwa kampus dikelola secara profesional dan akuntabel, yang berujung pada daya saing dan keberlanjutan finansial PTS.
Urgensi Predikat Kampus Siaga Bencana: Penghargaan “Kampus Siaga Bencana Provinsi Bali” menandakan bahwa perguruan tinggi memiliki sistem manajemen risiko dan kesiapsiagaan bencana yang terstruktur, mulai dari kebijakan, SOP evakuasi, pelatihan, hingga koordinasi dengan pihak eksternal. Bagi PTS, ini krusial karena bencana (gempa, banjir, kebakaran, erupsi, dsb.) dapat melumpuhkan proses pembelajaran, merusak aset kampus, serta mengancam keselamatan mahasiswa dan dosen, sehingga kesiapsiagaan menjadi bagian intrinsik dari manajemen kampus, bukan tambahan opsional. Status kampus siaga bencana juga memperkuat citra institusi sebagai lingkungan belajar yang aman dan peduli keselamatan, yang penting untuk menarik mahasiswa, terutama di wilayah rawan bencana seperti Bali dan NTB.
Sinergi Keduanya bagi Tata Kelola PTS: Jika dipadukan, dua jenis penghargaan ini menggambarkan PTS yang tidak hanya “taat mutu” secara administratif, tetapi juga resilien dan adaptif dalam menghadapi risiko eksternal. SPMI yang kuat memastikan semua program termasuk program kesiapsiagaan bencana masuk ke dalam siklus peningkatan berkelanjutan, sehingga kebijakan tidak berhenti pada dokumen, melainkan berubah menjadi praktik nyata di lapangan. Bagi pengelola PTS, pencapaian serupa dapat dijadikan benchmark dan pendorong untuk mengintegrasikan penjaminan mutu akademik dengan manajemen risiko dan keselamatan kampus sebagai satu kesatuan sistem tata kelola perguruan tinggi yang modern dan berkelanjutan.
Universitas Dhyana Pura memasuki tahun 2026 dengan dua modal utama: keunggulan SPMI dan kapasitas sebagai Kampus Siaga Bencana. Berdasarkan narasi tersebut, berikut rekomendasi strategis yang penting bagi pengelolaan Undhira.
Penguatan SPMI sebagai Motor Utama:
1) Menjadikan SPMI sebagai “ruang kendali” semua kebijakan: setiap program akademik, kemahasiswaan, kerjasama, dan digitalisasi harus masuk dalam siklus PPEPP, dengan indikator kinerja yang jelas dan ditindaklanjuti.
2) Menggunakan data SPMI dan PDDikti untuk pengambilan keputusan strategis: pembukaan/penataan prodi, perencanaan dosen (rekrutmen dan studi lanjut), serta prioritas investasi sarana–prasarana, sehingga setiap keputusan berbasis bukti, bukan sekadar intuisi.
3) Mengomunikasikan capaian mutu kepada publik secara terstruktur (website, laporan tahunan mutu, bahan akreditasi) untuk memperkuat kepercayaan calon mahasiswa, orang tua, dan mitra industri.
Pengelolaan Risiko dan Kampus Siaga Bencana:
1) Mengintegrasikan manajemen risiko bencana dalam Rencana Strategis dan RBA: anggaran khusus untuk sarana keselamatan, simulasi rutin, serta sistem peringatan dini dan jalur evakuasi yang terstandar.
2) Menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai bagian kurikulum dan organisasi kemahasiswaan: mata kuliah/kelas pendek, unit relawan kampus, dan program pengabdian masyarakat di wilayah rawan bencana.
3) Mengembangkan kemitraan dengan BPBD, PMI, rumah sakit, dan komunitas lokal untuk memperkuat jejaring respons cepat serta membuka peluang riset dan pengabdian tematik kebencanaan.
Integrasi Mutu, Keselamatan, dan Daya Saing:
1) Menjadikan dua penghargaan LLDIKTI sebagai benchmarking tahunan: menetapkan target kinerja 2026 yang eksplisit (misalnya peningkatan nilai akreditasi, jumlah program unggulan, jumlah pelatihan kebencanaan, dan publikasi terkait disaster management).
2) Mengemas keunggulan mutu dan kesiapsiagaan bencana sebagai brand positioning Undhira: kampus yang unggul akademik, aman, dan peduli keberlanjutan—terutama relevan untuk program-progam pariwisata, kesehatan, dan sosial.
3) Mendorong budaya organisasi yang selaras dengan filosofi “Depang anake ngadanin”: pimpinan dan unit kerja didorong menjaga kerendahan hati namun agresif dalam peningkatan mutu, dengan sistem reward–punishment yang transparan dan forum refleksi mutu berkala.
Pengembangan SDM dan Kelembagaan:
1) Menyusun program pengembangan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan yang langsung terkait dengan dua area kunci: penjaminan mutu (audit mutu internal, OBE, MBKM) dan manajemen risiko/kebencanaan.
2) Mengoptimalkan dukungan LLDIKTI 8 (pelatihan, pendampingan akreditasi, hibah, dan jejaring) untuk mendorong lahirnya pusat-pusat studi atau unit layanan baru, misalnya pusat kajian pariwisata tangguh bencana atau pusat manajemen mutu dan inovasi pembelajaran.
3) Melakukan review struktur organisasi untuk memastikan unit SPMI dan unit siaga bencana atau K3 kampus memiliki kewenangan, sumber daya, dan garis koordinasi yang kuat sampai ke program studi.
Dengan mengarahkan program 2026 pada penguatan SPMI berbasis data, manajemen risiko yang terintegrasi, dan pengembangan SDM serta kelembagaan, Universitas Dhyana Pura dapat mengkapitalisasi dua penghargaan tersebut menjadi lompatan kualitas dan daya saing institusional yang berkelanjutan (IGBRU).
Oleh:
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., MOS., CIRR.
Rektor Universitas Dhyana Pura
Selasa, 16 Dec 2025 | Oleh: admin sinode