Melompat ke Panggung Hijau Dunia: Makna Peringkat UI GreenMetric 2025 bagi Keberlanjutan Universitas Dhyana Pura
UI GreenMetric adalah pemeringkatan keberlanjutan kampus berskala global yang kini menjadi salah satu barometer penting arah pengembangan perguruan tinggi di seluruh dunia, termasuk Universitas Dhyana Pura (Undhira). Dalam konteks 2025, posisi Undhira di UI GreenMetric bukan sekadar angka, melainkan cermin komitmen, sekaligus kompas strategis untuk menata masa depan kampus yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.
Apa itu UI GreenMetric?: UI GreenMetric World University Rankings adalah pemeringkatan tahunan yang menilai universitas di seluruh dunia berdasarkan komitmen dan kinerjanya di bidang keberlanjutan. Pemeringkatan ini diinisiasi oleh Universitas Indonesia sejak 2010 dan berkembang menjadi jaringan global 1.745 universitas dari 105 negara pada tahun 2025. Tujuan utamanya adalah mendorong kampus mengukur, melaporkan, dan meningkatkan praktik keberlanjutan secara sistematis, tidak hanya pada level kebijakan, tetapi juga implementasi nyata di lapangan. Sebagai sistem pemeringkatan pertama di dunia yang berfokus khusus pada isu keberlanjutan kampus, UI GreenMetric memposisikan universitas sebagai aktor perubahan yang mampu menggerakkan transformasi menuju masa depan berkelanjutan. Melalui indikator yang terukur, GreenMetric berfungsi bukan hanya sebagai ajang kompetisi, melainkan sebagai platform pembelajaran, kolaborasi, dan saling menginspirasi antar kampus di berbagai negara.
Posisi Undhira di UI GreenMetric 2025: Dalam UI GreenMetric 2025, Universitas Dhyana Pura tercatat sebagai universitas ke-1.429 paling berkelanjutan di dunia dengan total skor 3.380 atau ekuivalen 33,80 persen dari skor maksimum. Pemeringkatan ini menempatkan Undhira di tengah peta global perguruan tinggi berkelanjutan, di antara 1.745 universitas yang berpartisipasi. Dari sisi kategori, performa Undhira cukup beragam:
a) Skor tertinggi terdapat pada kategori Pendidikan & Riset (ED) dan Transportasi (TR) dengan persentase kategori di atas 38 persen.
b) Kategori Energi & Perubahan Iklim (EC), Waste (WS), dan Setting & Infrastructure (SI) masih berada di kisaran 27–35 persen, menunjukkan ruang perbaikan yang signifikan.
c) Secara nasional, Undhira berada pada peringkat ke-186 di Indonesia, dengan posisi relatif lebih baik pada indikator Pendidikan & Riset.
Artinya, Undhira telah menjejakkan diri di panggung keberlanjutan global, namun masih memiliki peluang besar untuk melompat lebih tinggi melalui penguatan kebijakan hijau, investasi infrastruktur, dan inovasi program keberlanjutan.
Metode dan Indikator Pengukuran: UI GreenMetric menggunakan kuesioner online yang diisi universitas, kemudian diverifikasi oleh tim ahli berdasarkan bukti pendukung yang diunggah. Setiap jawaban tidak hanya menuntut klaim, tetapi juga dokumentasi, sehingga mendorong tata kelola data dan akuntabilitas internal kampus.
Terdapat enam kategori utama dengan bobot berbeda yang mencerminkan prioritas isu keberlanjutan:
1) Setting & Infrastructure (SI) – 15%: Mengukur kebijakan dan kondisi fisik kampus, termasuk rasio ruang terbuka hijau, luas vegetasi, area resapan air, anggaran keberlanjutan, fasilitas disabilitas, keamanan, kesehatan, dan konservasi flora-fauna.
2) Energy & Climate Change (EC) – 21%: Menilai efisiensi energi, penggunaan peralatan hemat energi, penerapan smart building, porsi energi terbarukan, program konservasi energi, elemen green building, program penurunan emisi, dan jejak karbon per kapita.
3) Waste (WS) – 18%: Mencakup program 3R, pengurangan penggunaan kertas dan plastik, pengolahan sampah organik dan anorganik, pengelolaan limbah B3, pengolahan air limbah, dan pemanfaatan teknologi informasi dalam manajemen sampah.
4) Water (WR) – 10%: Menilai konservasi air, daur ulang air, penggunaan alat hemat air, konsumsi air olahan, pengendalian pencemaran air, dan sistem pengelolaan air berbasis TIK.
5) Transportation (TR) – 18%: Mengukur jumlah kendaraan per kapita, layanan shuttle, ketersediaan kendaraan emisi nol, pengaturan parkir, program pembatasan kendaraan, inisiatif pengurangan kendaraan pribadi, jalur pejalan kaki, serta pemanfaatan TIK dalam manajemen transportasi.
6) Education & Research (ED) – 18%: Menilai proporsi mata kuliah keberlanjutan, porsi dana riset keberlanjutan, publikasi hijau per dosen, kegiatan lingkungan, aktivitas organisasi mahasiswa, website keberlanjutan, laporan keberlanjutan, kolaborasi internasional, KKN/PKM bertema keberlanjutan, start-up hijau, green jobs lulusan, unit pengelola sustainability, dan pemanfaatan TIK dalam tata kelola.
Total skor diperoleh dari penjumlahan seluruh indikator, lalu universitas diranking. Bila skor total sama, penentuan peringkat dilakukan berurutan mulai dari skor EC, kemudian WS, TR, ED, SI, dan terakhir WR. Dengan kata lain, performa energi–iklim dan pengelolaan sampah menjadi penentu utama ketika terjadi skor imbang.
Makna Posisi UI GreenMetric bagi Undhira: Bagi Undhira, posisi di UI GreenMetric bukan sekadar sertifikat untuk dipajang di dinding, melainkan narasi tentang siapa Undhira hari ini dan ke mana kampus ini ingin bergerak di masa depan. Ada beberapa makna strategis yang dapat dibaca dari capaian 2025:
1) Legitimasi komitmen keberlanjutan: Dengan tercatat sebagai universitas ke-1.429 paling berkelanjutan di dunia, Undhira mengirim pesan bahwa kampus kecil di Bali pun terlibat dalam percakapan global tentang masa depan bumi. Ini penting bagi reputasi institusi di mata calon mahasiswa, mitra, dan dunia industri yang kian sensitif terhadap agenda hijau.
2) Cermin kelemahan dan keunggulan internal: Profil skor per kategori menunjukkan area yang telah relatif kuat misalnya pendidikan dan riset bertema keberlanjutan sekaligus mengungkap ruang kosong di sisi energi, air, dan penguatan sistem berbasis TIK. Dari sini, pimpinan universitas dapat menjadikan GreenMetric sebagai dashboard untuk menyusun prioritas investasi dan kebijakan.
3) Bahasa bersama untuk kolaborasi internasional: Karena UI GreenMetric menjadi rujukan global, posisi Undhira di dalamnya memudahkan kampus membangun jejaring, joint program, dan riset kolaboratif dengan universitas lain yang juga berorientasi pada SDGs. Skor dan indikator menjadi “bahasa teknis bersama” yang memudahkan penyusunan proyek lintas negara.
4) Instrumen internalisasi nilai Tri Hita Karana: Di konteks Bali, indikator GreenMetric dapat dipadukan dengan filosofi Tri Hita Karana harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam. UI GreenMetric memberi kerangka ukur teknis, sementara Tri Hita Karana memberi roh kultural dan spiritual. Dengan begitu, keberlanjutan Undhira tidak hanya teknokratis, tetapi juga berakar pada kearifan lokal.
Dampak bagi Keberlanjutan Undhira ke Depan: Masuknya Undhira dalam UI GreenMetric 2025 akan membawa dampak berlapis akademik, manajerial, kultural, hingga strategis jangka panjang. Beberapa konsekuensi konkretnya antara lain:
1) Mendorong tata kelola dan perencanaan strategis yang lebih hijau: Karena setiap tahun data harus diperbarui, Undhira terdorong membangun sistem pengumpulan data yang lebih rapi, lintas unit, dan berorientasi bukti. Ini pada gilirannya memperkuat budaya perencanaan berbasis data (data-driven) dalam Renstra, RKAT, dan dokumen mutu lainnya, dengan memasukkan target-target keberlanjutan yang terukur.
2) Memicu investasi bertahap pada infrastruktur dan teknologi hijau: Indikator tentang smart building, energi terbarukan, pengelolaan air, dan TIK dalam manajemen lingkungan hampir pasti akan mengarahkan universitas pada keputusan investasi jangka menengah: dari lampu hemat energi hingga panel surya, dari IPAL yang lebih baik hingga sistem pemantauan konsumsi air dan listrik. Mungkin tidak bisa dilakukan sekaligus, tetapi roadmap UI GreenMetric membantu memetakan langkah-langkah bertahap yang realistis sesuai kapasitas Undhira.
3) Menguatkan kultur akademik dan keaktifan mahasiswa dalam isu keberlanjutan: Karena kategorinya memasukkan mata kuliah, riset, publikasi, kegiatan mahasiswa, website, hingga laporan sustainability, maka program akademik dan kemahasiswaan akan terdorong untuk memasukkan tema keberlanjutan secara lebih eksplisit. Ini dapat melahirkan: Lebih banyak skripsi dan riset tentang pariwisata berkelanjutan, energi bersih, dan ekonomi hijau. Kegiatan BEM dan UKM yang terarah pada kampanye pengurangan plastik, pengelolaan sampah, konservasi air, dan sejenisnya.
4) Meningkatkan daya tarik bagi mitra dan calon mahasiswa: Skor GreenMetric dan status sebagai “world’s most sustainable university (ranked 1429th)” dapat dimanfaatkan dalam materi promosi, akreditasi, dan pembukaan kerja sama dengan stakeholder pemerintah maupun industri. Di era ESG (Environmental, Social, Governance), banyak mitra mencari kampus yang punya rekam jejak keberlanjutan, dan UI GreenMetric memberi legitimasi eksternal tersebut.
5) Membangun resiliensi jangka panjang kampus: Keberlanjutan bukan hanya tentang “hijau”, tetapi juga tentang ketahanan menghadapi krisis energi, perubahan iklim, dan tekanan sosial-ekonomi. Indikator GreenMetric—dari efisiensi energi hingga kesiapan infrastruktur—secara tidak langsung membantu Undhira membangun kampus yang lebih adaptif terhadap bencana, fluktuasi biaya energi, dan tuntutan regulasi lingkungan di masa depan.
6) Memperkuat integrasi dengan agenda SDGs: Perubahan metodologi GreenMetric beberapa tahun terakhir memasukkan dimensi sosial, ekonomi, dan aspek pandemi, serta penyesuaian indikator terkait SDGs pada 2025. Bagi Undhira, ini peluang untuk mengaitkan program pengabdian masyarakat, riset, dan kurikulum dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota & Komunitas Berkelanjutan), SDG 13 (Aksi Iklim), dan lain-lain.
Pada akhirnya, UI GreenMetric mengundang Undhira untuk tidak berhenti pada kebanggaan simbolik, tetapi bergerak menuju transformasi struktural. Angka peringkat 1.429 dan skor 33,80 menjadi titik tolak bukan garis finish untuk mendesain kampus yang bukan saja ramah lingkungan, tetapi juga menyehatkan komunitas akademiknya, memuliakan budaya lokal, dan relevan dengan masa depan Bali serta dunia. Jika Undhira mampu menjadikan UI GreenMetric sebagai instrumen refleksi kritis dan perencanaan strategis, maka setiap kenaikan skor di tahun-tahun berikutnya tidak hanya berarti naik peringkat, tetapi juga naik kualitas hidup sivitas akademika dan masyarakat yang dilayaninya (IGBRU).
Oleh:
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., MOS., CIRR.
Rektor Universitas Dhyana Pura
Senin, 05 Jan 2026 | Oleh: admin sinode